PPOTRET DAN KENAKALAN REMAJA

Pada umumnya setiap orang tua pasti menginginkan anaknya kelak menjadi anak yang baik, pintar dan bermoral sehingga orang tua akan merasa bangga dan bahagia. Sebaliknya, orang tua akan merasa sangat prihatin dan terenyuh hatinya ketika mendengar dan mengetahui anaknya terjerumus ke dalam kasus moralitas.Misalnya terlibat tawuran antar pelajar, mengkonsumsi narkoba atau miras, sering bolos masuk sekolah, suka dugem ke diskotik, dan atau yang lebih ekstrem lagi menjadi gadis panggilan pemuas para hidung belang.Na’udzubillah!!!

Fenomena-fenomena seperti di atas memang bukan hal yang tabulagi bagi masyarakat kita. Kejadian semacam itu sudah sering kita saksikan dan bisa kita ketahui dari tampilan berita di beberapa media. Hampir setiap hari berita-berita yang berkaitan dengan merosotnya moralitas dikalangan remaja selalu menghiasi halaman media,baik media cetak maupun media elektronik. Moralitas remaja atau muda-mudi bangsa ini nampak mengalami degradasi yang cukup drastis.Semakin hari pergaulan dan gaya hidup remaja semakin bergeser jauh dari nilai-nilai kebajikan dan kesopanan. Dengan kondisi mental dan jiwanya yang masih labil, remaja seringkali mudah terjebak pada pola hubungan yang dapat merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain.
Menyikapi situasi dan kondisi semacam ini kita tidak bisa secara sepihak melempar kesalahan pada anak-anak atau remaja kita. Yang bertindak dan terlibat memang mereka, tetapi dibelakang mereka masih ada orang tua atau keluarga yang ikut ‘berperan’ –walaupun secara tidak langsung. Peran yang dimaksud ialah kondisi keluarga tempat dimana remaja dibesarkan. Dengan kata lain, kondisi keluarga yang harmonis, jauh dari pertengkaran dan percekcokan akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan psikologis dan mental seorang anak. Sebaliknya,kondisi keluarga yang karut marut, penuh dengan konflik atau broken home akan berdampak negatif dan berakibat buruk pada mentalitas seorang anak.

Kalau kita perhatikan, banyak anak remaja yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan kriminalitas berasal dari keluarga yang tidak harmonis/broken home –walau sebenarnya ada juga yang berasal dari keluarga mapan. Ini menunjukkan betapa keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa dan mental seorang anak. Mereka yang berasal dari keluarga tidak harmonis jelas kurang mendapatkan perhatian, didikan, bimbingan dan pengawasan dari orang tuanya. Oleh karena kurang mendapatkan perhatian, bimbingan dan pengawasan, maka peluang atau kesempatan untuk melakukan tindakan negatif cukup besar dan terbuka. Mereka tidak lagi mempertimbangkan dampak buruk dari apa yang dilakukannya. Yang bercokol dalam pikirannya hanyalah kesenangan belaka dan hura-hura.

Karena itu, merawat keutuhan rumah tangga atau keluarga sangat penting. Di kota-kota besar banyak orang tuayang sibuk dengan aktivitasrnyamasing-masing semisal mengurusi bisnis, karir atau hal-hal yang lain. Sementara keluarga kurang diperhatikan dan bahkan terkesan abai. Padahal menjaga dan mengurus keluarga merupakan amanah yang tidak boleh dikesampingkan.Mengurus atau menjaga keluargaberarti melaksanakan perintah Allah SWT sebagimana yang termaktub dalam Al-Qur’an (Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka… Q.S. At-Tahrim: 6).

Selain dari pada itu, minimnya pemahaman ajaran agama turut menjadi penyebab remaja kerap kehilangan kontrol diri. Remaja yang tidak memahami norma-norma agama akan mudah terpengaruh oleh keadaan disekitarnya. Ia tidak memiliki prinsip untuk dijadikan pegangan atau pedoman hidup (way of life).Sehingga kepribadiannyapun seperti bunglon, mudah berubah-rubah warna sesuai warna sekitar. Salah satu buktinya yaitu ketika tiba pada hari atau tanggal 14 Februari dimana pada tanggal ini terdapat momen yang sangat dinanti-nantiyang tidak akan dilewatkan begitu saja apalagi dilupakan oleh mayoritas remaja. Karena tanggal itu (14 Februari), oleh kalangan remaja dianggap sebagai momen istimewa dan spesial, yaitu hari kasih sayang atau yang lebih populer disebut dengan Valentine’s Day.

Di hari itu banyak kalangan pemuda atau remaja ramai-ramai merayakan Valentine’s Day dengan berbagai macam bentuk ungkapan kasih sayang. Ada yang diwujudkan dengan cara saling memberi cokelat atau bunga. Ada pula yang mengungkapkan dengan cara saling memberi kado kepada pasangannya, berlibur ke pantai dan lain sebagainya. Bahkan sebagian remaja ada yang merayakan dan memanfaatkan momen tersebut sebagai kesempatan untuk mengungkapkan kasih sayang dengan bebas(melakukan apa saja) dengan sang kekasih (pacar).Hal seperti inilah yang cukup meresahkan bagi kita khususnya bagi orang tua, sebab perilaku semacam itu bertentangan dengan ajaran agama (Islam).

Dari beberapa sumber diketahui bahwa tradisi merayakan Valentine’s Day sebenarnya berasal dari bangsa Romawi dan sedikitpun tidak ada kaitannya dengan bangsa Indonesia. Tradisi yang lahir dari Romawi ini pada gilirannya secara pelan namun pasti menjadi sebuah tradisi atau budaya yang cukup mempengaruhi dunia, termasuk bangsa kita, dengan versi latar belakang sejarah yang berbeda-beda.

Terlepas dari perbedaan tersebut, kita mesti sangat prihatin dan khawatir melihat perilaku remaja kita yang semakin hari kian tak terkendali. Sadar atau tidak mereka telah terjebak pada kegiatan yang banyak mudharat-nya dibanding mashlahah-nya. Terperosoknya mereka ke dalam kegiatan yang tidak memiliki nilai-nilai positif, bahkan cenderung mengandung unsur negatif salah satunya disebabkan oleh pemahaman mereka yang parsial dan sempit.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua atau keluarga untuk memberikan perhatian, bimbingan dan pengawasan kepada putra-putrinya, disamping itu juga penting menanamkan pemahaman agama mulai sejak dini. Dengan memiliki pemahaman agama yang mantap, maka putra-putri kita telah memiliki bekal berharga dan lebih siap dalam menyongsong masa depannya.....Ayooo Berubah......!!!!

0 Response to "PPOTRET DAN KENAKALAN REMAJA "